Senin Subuh

Senin pagi ini kau bangun lebih awal saat bunda bersiap siap.. ya seperti biasa kegiatan setiap senin, menyusuri dinginnya jalan menuju stasiun untuk kembali “sekolah”.

Matamu terus mengikuti arah bunda, pakai jilbab, siapkan jas dokter, pastikan laptop dan segala charger, tiket kereta.

“Farren.. bobo Nak, nanti ngantuk di sekolah”. Tapi kalimat itu dihiraukannya. Entah apa yang ada dipikirannya.

Setiap minggu malam sebelum bobo slalu bertanya, “bunda nanti balik surabaya? Bobo malam masih sama aku kan?” Berangkatnya malam malam waktu masih gelap?Aku ikuuut ke surabaya”.. kalimat itu sudah menjadi template bagiku.. “iyaa, nanti kan jumat balik lagi Nak, kita sama sama sekolah biar pinter”. Kucoba menjawab seringan mungkin sambil lalu, agar hati tak terlalu dominan menanggapi, meski kadang mata sudah mulai burem menahan air yang akan jatuh.

Aku slalu bertanya, “klo bunda berangkat, dipamiti ndak?”. “Iyalah bun..”
Tapi beberapakali aku pamit dan menciumnya, dia bangun, menangis seakan tidak rela aku berangkat. Jadi daripada tangisan dan wajah sedihnya terus berada dibenakku, mengendap endaplah pilihanku..

Beda dengan senin pagi kali ini. Tanpa kata-tanpa tanya, matanya terus terbuka menyusuri arahku melangkah, meski mulutnya tak berhenti menguap.

“Bunda berangkat yaa Nak, insya Allah minggu terakhir bunda sekolah di surabaya” sambil kucium keningnya..

Segera kubalikkan badan, tak kuasa kumelihat apa ekspresi wajah yang dibentuk mas Farren..

Kukejar kereta.. kereta tumapel di kala senin subuh.. dan mendinginkan hatiku dengan mendengar lantunan Al Matsurat, #senin subuh di akhir januari, gerbong 4/9A#