Lansia vs Balita

Momong Tinggal bersama dengan lansia dan balita bersama, tanpa helper, bukan perkara mudah. Meski tingkah laku mereka hampir mirip, tetapi saya yang masih di usia pertengahan ini perlu memutar otak, mengerem mulut, meningkatkan kesabaran ekstra. Bagaimana mereka terarah sesuai dengan usia mereka. Si Balita yang berjalan 3 tahun, sedang aktif aktifnya bertanya, perkembangan sosial, bahasa, motorik, sensorik, kognitif yang waoooww, dan Si Lansia yang mulai mengalami pengurangan recall-memori di usia hampir 90 tahun, penurunan aktifitas fisik, tetapi semangat membara yang waoooow juga.

Disaat si Lansia sudah mandi dengan disiapkan air hangat, 10 menit lagi beliau akan masuk kamar mandi dan persiapan untuk mandi lagi. Sedangkan si balita butuh kejar kejaran untuk mengajaknya mandi, bahkan berakhir mandi di pancuran tetangga yang lagi nyuci mobil. Ketika baju penuh keringat dan akan diganti “aku tadi sudah mandi kan, Bunda?!”
Di saat Lansia senang sekali membereskan barang barang yang tercecer, dan disimpan rapi serapi rapinya sampai tidak terlihat ada dimana, si balita merasa puas jika mengambil mainan dengan menggulingkan box mainan ke lantai, meski sebenernya mainan bisa diambil secara langsung.
Di saat si Lansia mudah menginginkan sesuatu, makanan kecil yang dipunyai balita, si Balita sedang membangun ego untuk mempertahankan apa yang dipunyainya
Di saat Lansia sudah mulai pikun, apabila tidak diajak sholat berjamaah, beliau akan lupa berapa rokaat yang sudah dikerjakan, dan tidak ada rokaat sholat yang dikurangi, selalu dilebihkan. Si Balita juga begitu, apabila tidak diajak sholat berjamaah, dia juga merubah rokaat sholat, tetapi dipangkas, agar cepat maen atau kabur kemana dia mau.
Karena perbedaan perbedaan tersebut, terkadang tidak jarang nada bicara meninggi, alis mengkerut, mulut menggerutu. Astaghfirullahaladzim….
Ternyata akhir akhir ini saya sudah mulai memahami pola mereka berdua. Aktifitas si Iyut yang suka bersih bersih diarahkan di jam jam tertentu tanpa bikin cekcok dengan si kecil. Si Lansia yang keinginannya kuat untuk mengerjakan segala sesuatu tapi dengan fisik yang kurang mendukung, diberikan kegiatan yang sesuai dengan kesukaannya. Misal memasak, beliau bagian membersihkan buntut kecambah, sambil duduk santai di depan, mengupas bawang, menyiapkan daun pisang dan membentuk silinder untuk membuat lontong tiap hari, menyapu dan melipat lipat apapun. SALAH jika melarang apa apa yang dilakukan lansia, meski bermaksud cinta.
Untuk Si Balita lebih fleksibel, mau maen, mau ikutan masak, mau apa aja boleh, tetapi terus diberi tahu bahwa “iyut sudah tua”, kalo selesai maen dibereskan, nanti kalo kesandung Iyut, Iyut jatuh, gimana?! Atau diajarin berbagi. Apapun snack yang mungkin bikin iyut kepingin, ayo berbagi,… es krim. Chiki, crackers…
Dibalik pertolak-belakangan mereka.., urusan sayang dan saling menghibur, mereka cukup kompak.. sering sekali si Iyut tertawa lepas akibat ulah dan perkataan si Farren yang tak diduga. Begitu juga farren, makin tahu apa itu ‘hormat’ kepada yang lebih tua, “nyuwun sewu yuuut” XD. Mereka tiap hari berakting sbg dokter dan pasien. si kecil pengawas minum obat yang baik…”obatnya diminum yuuut, dari dokter Farren”. Si iyut pun mnjadi pasien yang patuh….

 

Moga mama, iyut, farren dan saya sehat dan sabar selalu… terima kasih Ya Allah ^^

Farren dan Iyut

Farren dan Iyut

Advertisements

2 thoughts on “Lansia vs Balita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s