Budayakan gemar Membaca yuuuk

Membaca adalah jendela dunia

Tentu kita setuju sekali dengan kalimat tersebut kan? memang dengan membaca, kita akan mendapatkan berbagai pengetahuan. Semakin banyak buku yang kita baca, maka semakin banyak pula ilmu yang akan kita peroleh

Kapan kita bisa memperkenalkan ‘senang membaca’ kepada anak? Setelah mereka bisa membaca dan menulis. Jika itu jawabannya, wah ayah dan bunda SALAH BESAR ! Sebenarnya tidak ada istilah terlalu dini untuk memperkenalkan anak pada dunia membaca. Lalu bagaimana caranya? bukankah mereka belum bisa membaca ?

Kita pernah mendongeng untuk anak. Bahkan saya pribadi dari si kecil masih bisa ngoceh ngoceh, pegang pegang sesuatu, sudah sering melakukan kegiatan ini.. Meski kadang dicuekin, diacak acak, tapi si Farren ini tidak pernah menyobek kertas.. yaa kalo buka per halaman secara kasar si sering, motorik halusnya kan msh belum berkembang. Tapi seiring perjalanan usia, di semakin canggih dan nyaman dengan namanya buku, ga pernah merobek buku, kalo mencoret coret iya..:P Saya yakin, sebagian besar anak kecil suka jika didongengkan atau dibacakan dongen. Nah lewat media tersebut kita dapat memperkenalkan pada mereka untuk senang membaca.

Ketika bunda mendongeng, kita harus kawin dengan bacaan yang dibaca. Kalo perlu baca sekilas tentang apa, naahh terus kita kembangin sendiri sound effect, ekspresi, dan berbagai karakter suara dari cerita yang dibaca. Sehingga si kecil tertarik untuk serius mendengarkan dongeng atau membaca cerita itu sendiri…

Bunda bunda akan terngowoh ngowoh, saat si kecil mulai asyik menceritakan cerita yang pernah kita dongengkan. Farren ini termasuk anak yang ekspresif, dia akan mengikuti bagaimana bundanya dulu menceritakan. Cerita yang sudah di luar kepalanya adalah buto ijo dan timun mas.

kalo udah cerita… bummm buuummm, datang buto iju, peyutnya endut, matanya besal mengejal timun mas.. bummm bummm *sambil kakinya menghetak hetakkan lantai*.. hihihih lucu bangeeet…

Nah kalo si kecil udah seneng membaca, dia  otomatis tertarik dengan buku, angka, gambar di dalam bukunya. Yuhuuu sekarang masuk ke soal CALISTUNG pada anak usia dini. Saya setuju dengan tidak mengajari calistung pada usia dini dengan PAKSAAN.

Anak usia dini akan menjadi pengamat lingkungan yang baik, mulai bereksperimen dengan lingkungannya dan memanipulasi berbagai objek dan materi. Setiap anak akan melalui suatu proses perkembangan yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Secara umum, ada 3 aspek dasar yang perlu diperkenalkan anak usia dini tsb, yaitu :

  1. Aspek fisik-motorik : berlari, melompat, dan manipulasi obyek, gunting, pegang pensil
  2. Aspek sosial-emosional : pengertian thd diri sendiri, tanggung jawab, ikut aturan dan rutinitas, empati, berbagi
  3. Aspek kognitif : membandingkan, memilih, mengelompokkan, menghitung, mengenali pola, mendengarkan, berbicara, memperluas kosa kata, mengenal huruf

Jadi saya setuju dengan memperkenalkan angka, huruf latin, huruf hijaiyah pada usia dini. Dengan garis bawah harus dengan cara BERMAIN. Apalagi anak anak tertentu, yang suka dengan buku, secara otomatis tanya. ini huruf apa bunda? ini dibaca apa bunda? nah lewat metode baca buku, kartu atau baca plat nomer mobil anak akan mengingat huruf atau angka.. Jadi belajar calistung (baca, tulis dan hitung), menurut saya oke oke aja ASAL tidak dengan paksaan, kalo diajarin ga nyantol nyantol biarin aja, dan metode belajarnya yang asyik.. dan target ayah bundanya juga ga muluk muluk, sesuaikan tahap perkembangan dan kemauan si kecil.

Farren ini termasuk anak yang seneng dengan angka dan huruf. Kalo tahu ada kata kata, dia sok mengeja. Seperti kemarin, di meja ada kaleng biskuit Khong Guan… dia tanya ini huruf apa bunda, sambil nunjuk satu per satu hurufnya… setelah semua ditanyakan dia menyimpulkan sendiri, bahwa kata kata itu bacanya ” K u e b u n d a  e n a k ” hahahahha… padahal bacaan aslinya Khong guan…

Setiap saya baca buku, Farren juga suka ikut baca. Entah cuma baca angka halaman buku text book saya, atau tanya ini huruf apa? ini bacanya apa bunda? Atau dia mengambil buku ceritanya..

 

Menurut saya oke oke saja mengenalkan angka 1-10 atau menghitung benda ada berapa buah atau bermain petak umpet, yang jadi menghitung 1-10 pada anak usia dini, lompat di karpet dengan berhitung…dsb. Itu belajar berhitung juga kan?  Kemudian memperkenalkan AIUEO, ABCDE  beserta cara menulisnya dengan memegang bolpoin, entah lewat lagu atau lewat kartu, atau lewat bedak yang ditaruh di lantai, kemudian kita ukir angka diatasnya.. intinya metodenya menyenangkan lah. kalo si kecil keburu ucul, yaa sudah biarkan… paling nggak 15 menit sambil menyanyi, main pasir atau mendongeng, masukkan unsur edukatif di dalamnya. Tidak terlalu fokus untuk diajarkan calistung pada usia yang sangat dini tentunya, paling nggak 3 aspek dasar di atas.

Misal A, Apel. A seperti kemah ya.. kaya di film Up (kung naik balon). Kan itu bikin kemah di kamar. Adventure is out there… ajak juga menulis A. beri panduan titik titik… Bunda paling tahu apa kesukaan si kecil. Nah masuknya lewat situ….

Tidak hanya melulu soal huruf jika mau mengajarkan. Misal Apel, hmmm enaak. Apel rasanya apa sayang? Manis… Kalo garam? Asin… lanjut bernyanyi

tahukah kamu apa rasa gula? manis manis manis itu rasanya

tahukah kamu apa rasa cabe? pedas pedas pedas aku tak suka

jadi seru… sebelumnya perbendaharaan lagu kita juga harus banyak :D. Apel enaak yaa… enak sambil angkat jari jempol.. nah bisa juga kita mengenalkan macam macam jari… ini jempol, telunjuk, tengah, manis, kelingking.. hayuuk dihitung yuuk jarinya farren…1, 2,3,4,5… hihihi, nyanyi lagi dooong

ibu jari, jari telunjuk , jari tengah yang panjang

jari manis pakai cincin, jari kelingking yang pendek

(nada lagu “makan apa..makan apa..makan apa sekarang”)

atau

Ini namanya jari Jempol..pollll, Ini namanya Jari Jempol, apa kata jari jempol di sekolah tidak boleh ngompol
“Ini namanya jari telunjuk..jukkkk, Ini namanya Jari Telunjuk, apa kata jari telunjuk di sekolah tidak boleh ngantuk
“Ini namanya jari tengah..ngaahhh, Ini namanya Jari Tengah, apa kata jari tengah di sekolah tidak boleh lengah
“Ini namanya jari manis..nissss, Ini namanya Jari Manis, apa kata jari manis di sekolah tidak boleh nangis
“Ini namanya jari kelingking..kiiingg, Ini namanya Jari Kelingking, apa kata jari kelingking di sekolah farren harus ranking…
Jadi menurut sekali lagi menurut saya. Ortu yang paling tahu bagaimana karakter dan perkembangan si kecil. Saya juga kurang setuju kalau pembelajaran calistung itu melalui tempat les, atau bimbingan belajar, karena metode pembelajaran tiap anak berbeda dan mood si anak berubah ubah..
Terus Stimulasi dengan cara yang asyik, sisipkan unsur edukatif di setiap bermainnya, temani saat menonton film film kesukaannya dan pertegas unsur unsur yang perlu dia dapet. Misal nonton ipin upin, meski dia tahu ceritanya bagaimana… per tegas ” itu lho dek, meski opanya ga masak ayam, harus tetep maem, rejeki dari Allah tuh” atau “kalo main petasan, bisa kena tangan kaya Fizi tuh” atau nonton timmy time, tetap dampingi dan masukkan nasehat nasehat dengan kata kata simpel sesuai filmnya, misal ” tuh timmy ga dianter sekolahnya, atau lhooo maen sama temennya, bundanya nunggu di luar” hihihi gitu gitu sih…
Saya bunda yang cerewet siii…hehehhee… SEMANGAT…SALAM buat putra putri tercintah ^____^
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s